Showing posts with label Bacaan Islami. Show all posts
Showing posts with label Bacaan Islami. Show all posts

Friday, February 13, 2015

Eyes That Do not Cry On Doomsday

Jalaluddin Rachmat
All Muslims believe that the world and this life will end. There will come a time when humans gathered in the court of Allah. The Quran tells many times about the events of this Judgment Day, as mentioned in Al-Ghashiya verses 1-16. In the chapter, illustrated that not all the face of fear. There are faces that day bright cheerful. They are happy because of his behavior in the world. He was placed on high heaven. That group of people on the Day of Judgement obtain happiness.
About the faces that looked cheerful and happy in the Hereafter, the Prophet once said, "All eyes will cry on the day of Judgment except three things. First, the eyes are crying for fear of Allah. Second, eyes averted from what is Allah has forbidden. Third, the eye is not sleeping because defend the religion of Allah. "
Let us look at ourselves, whether we include eye eyes crying in the Day of Judgment?
In the past, a history, a man who works just chasing lust, struggling and wandering in-place teinpat immoral, and come home late malam.Dari that place, he came home he staggered. In the middle of the street, in a house, the man heard a faint one reads the Quran. It reads the verse that reads: "Not datangkah time for those who believe, to subject their hearts to remember God and to the truth that has come down (to them), and they do not like people who previously had lowered the Book to him, kenudian pass, a long time on them and their hearts became hardened. And most of them are ungodly (Qur'an 57: 16).
Upon returning he was at home, before going to bed, the man repeated reading it in his heart. Then without feeling the tears streaming down her cheeks. The boy felt overwhelming fear. Thrilled at the sight of God because of immoral acts which he never did. Then he changed his ways. He filled his life with the search for knowledge, noble deeds and worship to Allah., So that in the eleventh century Hijri he became a great scholar, a star in the world of Sufism.
This guy named Fudhail bin Iyad. He returned to the right path because they drain the tears of remorse for their crimes in the past because of fear of Allah. Blessed are those who have done wrong in his life later regretted his mistake with the way his eyes wet with tears of regret. Eyes like it inshallah including eyes do not cry in the Day of Judgment.
Second, eyes averted from the things forbidden by Allah. As we know that the Prophet once told me about the people who will be protected in the Day of Judgment when other people do not get protection. From ketujah man was one of them is a person who invited doing immoral by women, but he refused to do, saying, "I fear God".
Prophet Yusuf. representing this story. When he refused to do disobedience employer. His eyes including eye will not cry on the Day of Judgment, because his eyes turned away from anything that is forbidden by Allah.
Then the third eye is the eye that does not sleep due to defend the religion of Allah. As the eyes of the Islamic fighters who always mempertahahkan integrity of religion, and enforce Islamic milestones. That's the three pairs of eyes that will not cry on the Day of Judgment, which is described by the Quran as the happy faces on the Day of Resurrection.

Thursday, October 16, 2014

Ada Sajadah Panjang Terbentang

Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, "jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!"
Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah....Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.
Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yg datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.....
Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.
Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum'at: "Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah."
Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur'an, saya teringat satu ayat suci, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" Sayang, penfsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

"Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!" Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi
membuat saya malu...Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

Ada sajadah panjang terbentang....

Friday, August 29, 2014

Ketika Bumi Menjadi Sempit



          Pernahkah anda merasakan bumi yang kita diami ini menjadi sempit sehingga napas kita menjadi sesak? Jika belum, dengarlah kisah Ka'ab bin Malik lima belas abad yang lampau. Ketika Nabi yang mulia berangkat perang bersama para sahabat beliau dalam perang Tabuk, ada  tiga orang sahabat yang enggan ikut dalam barisan pasukan Nabi, yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'ah. Ka'ab bercerita, "Ketika kudengar berita bahwa Nabi telah kembali dari Tabuk, terpikir dalam hatiku untuk berdusta. Aku berpikir bagaimana supaya selamat dari kemurkaan Nabi. Namun ketika Nabi sudah sampai di Madinah, aku berpikir bahwa aku tidak akan selamat sedikit pun.
          Aku kemudian memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya mengapa aku tidak ikut berperang bersama beliau." Nabi datang di Madinah. Aku temui dia. Beliau tersenyum, senyum marah. 
"Kemarilah," ujar Nabi. Aku duduk di dekat beliau. Nabi yang mulia bertanya, "Apa yang menyebabkanmu tidak ikut berperang?" Aku berkata, Ya Rasul Allah, jikalau aku menghadap penduduk dunia selain engkau, tentu aku sanggup menyelamatkan diri dari dari kemurkaan dengan mengajukan alasan. Tetapi, demi Allah, sekiranya aku berdusta kepada engkau agar engkau ridha, mungkin Allah segera membuatmu marah kepadaku. Demi Allah, aku tidak mempunyai alasan apapun. Demi Allah, waktu aku meninggalkan diri, aku berada dalam keadaan yang baik (dan mampu untuk berperang).
Rasul bersabda, "Orang ini berbicara benar. Pergilah, sampai Allah memberikan keputusan tentang kamu." Nabi kemudian mengisolir Ka'ab dan kedua temannya sampai datang putusan dari Allah. Nabi melarang kaum Muslim berbicara kepada mereka. Bahkan, isteri mereka pun kemudian dilarang mendekati mereka. Wajah umat Islam berubah kalau melihat Ka'ab. Mereka segera memalingkan wajahnya.
Ka'ab bercerita, "Aku shalat berjam'ah bersama kaum Muslimin. Aku berkeliling kota dan pasar. Tidak seorangpun menegurku. Aku datangi Rasul sesudah shalat. Aku ucapkan salam kepadanya. Aku ingin tahu apakah beliau menggerakkan bibirnya membalas salamku.Aku shalat didekatnya dan mencoba melirik kepadanya. Usai shalat beliau melihatku, tetapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aku tinggalkan Nabi. Aku berjalan dan berjalan, sampai ke rumah saudara sepupuku, Abu Qatadah. Kuucapkan salam, tetapi demi Allah ia tidak menjawab salamku. Aku berkata, "Hai Abu Qatadah, tahukah engkau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Aku ulangi beberapa kali. Abu Qatadah hanya diam. Aku ulangi lagi. Ia menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Air mata menggelegak di pelupuk mataku. Aku beranjak dari rumahnya."
Kejadian ini berlangsung lima puluh hari. Ka'ab dan kedua kawannya mengasingkan diri di sebuah bukit. Keluarganya mengantarkan makanan kepada mereka. Suatu hari Ka'ab berkata, "Orang-orang dilarang berbicara kepada kita. Kita pun sepatutnya tidak saling berbicara. Setelah itu mereka tinggal berjauhan.
Datang pula utusan dari Syam yang bermaksud merangkul Ka'ab dan kedua temannya agar membelot dari Islam dan bergabung dengan non-Muslim. Ka'ab berkata, "Tawaran ini juga bagian dari cobaan." Ka'ab menampiknya dan tetap setia dalam Islam meski telah diisolir oleh umat Islam.
Setiap hari Ka'ab dan kedua rekannya berdo'a, beristighfar dan menangis. Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat: "
(Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang (QS 9: 118)
Ka'ab mendengar berita pengampunan ini setelah subuh. Ia memeluk pembawa berita. Ia rebahkan dirinya bersujud syukur. Segera ia temui Rasul. Rasul menyambutnya dengan senyum yang bersinar. Ketika melihat sambutan Nabi seperti itu (yang berbeda dengan sebelumnya). Ka'ab tidak dapat menahan air matanya. Ia menciumi tangan dan kaki Rasul yang mulia. Karena ia mendapat ampunan itu berkat kejujurannya, ia berjanji bahwa sejak itu lidahnya tidak akan pernah mengucapkan kebohongan. (Tafsir al-Durr al-Mantsur 4:309-315; Jalaluddin Rakhmat, 1993: 77-80)

Ada Apa Dengan Bencana


     Bencana.. bencana.. dan bencana. Itulah yang sedang terjadi di berbagai tempat di tanah air ini. Banjir... air pun menampakkan keperkasaannya. Menelan dan menghanyutkan apa yang dijumpainya. Riau, Semarang, Medan, Jakarta dan banyak lagi kota-kota bahkan kota-kota besar yang rentan bakal tenggelam. Belum lagi dengan Gempa.., kemarin ini gempa di Aceh menelan korban ribuan jiwa bahkan bukan hanya dari Indonesia tetapi dari dampaknya juga pada negara-negara lain.
Beberapa tempat bahkan dilengkapi dengan gempa, tanah longsor dan bencana yang lainnya. Ribuan orang terpaksa mengungsi. Mereka kehilangan rumah dan hartanya yang telah dikumpulkan dengan susah payah.

Wabah penyakitpun segera akrab dengan keadaan itu. Malaria, demam berdarah, diare dan beragam penyakit menular lainnya datang seolah melengkapi serangkaian bencana yang terjadi di negeri ini. Sebelumnya, ribuan hektar hangus terbakar, kereta api bertabrakan, pesawat terbang tergelincir dan jatuh, dan kecelakaan terjadi dimana-mana. Jauh lagi sebelum itu, tragedi Ambon, Galela, Sampit, Poso menambah gelap sejarah bangsa Indonesia.

Lalu kita bertanya, ada apa dengan semua ini? Mengapa tragedi dan bencana seolah begitu kerasan menghuni tanah ini? Al Qur’an menjawabnya:
“Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, ....”. (QS. Asy-Syuura’ : 30)

Ya... kitalah sebenarnya yang menjadi penyebabnya. Tak terhitung banyaknya perbuatan penduduk negeri ini yang telah menjadikan kita tergolong kaum yang pantas mendapatkan musibah. Di negeri inilah kemusyrikan dijadikan sebagai agama, kemaksiatan dijual sebagai komoditi, tak ada lagi perasaan berdosa. Di negeri ini juga kebenaran dan keadilan telah dimusnahkan.

    Kita sudah lupa bahwa kaum-kaum terdahulu telah dimusnahkan Allah karena sebab yang hampir sama dengan kita. Banjir telah menenggelamkan kaum Nabi Nuh yang menolak bertauhid dan memilih berhala, gempa dahsyat memusnahkan kaum Luth yang homoseks, kaum ‘Ad dan Tsamud dihancurkan karena kufur atas nikmat Allah dan bermegah-megahan di dunia. Allah juga telah menghancurkan para pemimpin negeri seperti Fir’aun yang mengaku Tuhan dan Namrudz yang memudayakan berhala.

    Bukankah kita melakukan semua yang dilakukan mereka? Kita lebih memilih berhala demokrasi dan menolak hukum Allah, kita lebih mencari kemegahan dunia dan melupakan nikmat akhirat, kita banyak menolak fitrah-fitrah manusia dan bertingkah seperti penguasa alam raya.

   Awal kehancuran bangsa ini sebenarnya sudah nampak sejak ditolaknya syari’at Islam sebagai pondasi ideologi. Sejak itu bom waktu berdetak menunggu saat meledak. Kini, bangsa ini sudah mengalami kehancuran akidah, kebejatan moral dan ketidakpastian hukum. Sebuah kerusakan yang sempurna.
     Maka satu-satunya jalan untuk lepas dari ancaman musibah Allah adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Meninggalkan dosa-dosa masa lalu, memperbaiki keimanan dan meningkatkan ketaqwaan dibawah undang-undang Allah. Jika itu dilakukan, niscaya bumi dan langit akan kembali mengeluarkan isinya dalam bentuk kenikmatan dan bukan musibah. Sebagaimana Allah telah berjanji :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf : 96)

Saturday, August 9, 2014

PAHLAWAN NERAKA



Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.
Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.
Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."

"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."
Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."

Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.
TIDAK AKAN MASUK NERAKA ORANG YANG MENANGIS KERANA TAKUTKAN ALLAH
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Bahawa tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya."
Dalam sebuah kitab Daqa'iqul Akhbar menerangkan bahawa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangat beratlah timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Maka salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda, sesiapa yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis kerana amat takut kepada-Mu."

Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka dengan berkat sehelai rambut yang pernah menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Malaikat Jibril A.S mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut."
Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahawa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyalaan api yang sangat menggerunkan, semua umat menjadi berlutut kerana kesusahan menghadapinya. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (Surah al-Jatsiyah ayat 28)

Sebaik sahaja mereka menghampiri neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyalaan apinya, dan diterangkan dalam kitab tersebut bahawa suara nyalaan api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, "Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang nabi sahaja yang akan berkata, "Umatku, umatku."
Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, "Wahai api! Demi hak orang-orang yang solat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali."

Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mahu kembali, lalu malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W"
Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. "Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya." Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.
Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. "Wahai Jibril, Apakah air itu?" Maka Jibril berkata, "Itulah air mata orang derhaka di kalangan umatmu yang menangis kerana takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu." Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T.

Telah bersabda Rasulullah S.A.W, " Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis kerana takut kepada-Mu, sebelum tidak ditemunya air mata."

KISAH LUQMAN AL-HAKIM DENGAN TELATAH MANUSIA
Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

Sebaik sahaja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."
Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."
Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T sahaja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."